Sumber dari Republika mencatat, setiap hari 93 juta batang sedotan plastik digunakan di seluruh Indonesia. Kalau berat satu sedotan 0.625 gram, maka total tiap hari terdapat 58.125 ton sedotan tiap harinya. Kalikan saja sebulan berapa, setahun berapa.

Bayangkan jika berton-ton sedotan itu berakhir di laut. Tersedak di kerongkongan ikan, terperangkap di lubang hidung penyu, terkumpul di perut paus. Itu baru sampah sedotan. Bayangkan dengan sampah plastik lainnya, berapa ton terhempas mengisi kolom lautan.

Belum lama ini kembali viral seekor penyu di Costa Rica yang lubang hidungnya kemasukan sedotan dan menyumbat gak tahu sudah berapa lama hingga sedotan tersebut sangat susah untuk dicabut (https://www.youtube.com/watch?v=4wH878t78bw).

Yang terbaru adalah paus sperma yang mati terdampar di Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi. Dalam perutnya ditemukan 5.9 kg sampah plastik, dari tali rafiah, gelas dan botol plastik hingga sendal jepit (http://www.mongabay.co.id/2018/11/20/ditemukan-59-kg-sampah-dalam-perut-paus-sperma-di-wakatobi-kok-bisa/).

Di perairan, perlu puluhan hingga ratusan tahun, sedotan dan plastik lainnya mulai terurai, itupun dalam bentuk micro dan nano plastic (plastik berukuran potongan-potongan yang sangat kecil) yang gak hilang di perairan. Nano plastic tertelan ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan besar, ikan besar dimakan oleh ikan yang lebih besar, hingga seluruh mata rantai makanan terkontaminasi plastik. Padahal ikan-ikan tersebut dimakan oleh manusia, sehingga nano plastikpun menumpuk dalam tubuh manusia.

Masih mending kalau kita jadi Plastic Man, si super hero jadul yang tubuhnya bisa melar. Lha faktanya nano plastic yang menumpuk dalam tubuh ini mengganggu kesehatan. Meski belum banyak studi mengenai resiko kesehatan, nano plastic berpotensi masuk ke aliran darah sehingga berpotensi pada penyakit yang berhubungan dengan kegemukan, tekanan darah dan jantung, reproduksi dan pertumbuhan (https://biosciences.exeter.ac.uk/documents/Micro-and_Nano-plastics_and_Human_Health_Galloway.pdf)

Di bawah ini info grafis dari Republika. Setidaknya mengingatkan aku dan keluargaku untuk bijak terhadap penggunaan sedotan dan produk plastik sekali pakai lainnya. Semoga kamu juga yah.